Esensi Sebuah Kemenangan di Hari nan Fitri

Esensi Sebuah Kemenangan di Hari nan Fitri
M. Ihsanuddin*

Betapa sedihnya para sahabat Rosululloh SAW ketika Ramadhan telah berlalu, bulan yang sangat mulia itu, yang penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah SWT tersebut, telah berlalu dihadapan kita. Dan belum tentu kita akan bertemu lagi di tahun depan. Maka doa Rosululloh SAW ketika memasuki bulan Rojab adalah: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab, keberkahan di bulan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan.”

Seiring berlalunya bulan Ramadhan dan datangnya hari nan fitri ini, setidaknya kita bisa menyisihkan waktu kita sejenak, merenung dan mengintrospeksi diri (muhasabah nafs), apakah kita sudah mengisi hari-hari ramadhan tersebut dengan amalan-amalan sunnah secara maksimal? Adakah perubahan pada hati, pikiran dan kepribadian kita? Seberapa besarkah peningkatan keimanan dan ketaqwaan hingga terjadi purifikasi pada jiwa individu dari kita? Apa yang kita dapatkan dari bulan Ramadhan ini?

Kalau kita review kembali, tidak bisa kita pungkiri bahwa bulan Ramadhan memiliki esensi yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian seorang muslim. Diantara esensi yang paling utama adalah pencapaian derajat taqwa bagi orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (QS;2;183) : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Selain itu, bulan ramadhan juga mempunyai beberapa makna : Pertama; Syahru Tazkiyatun nafs (bulan penyucian jiwa). Ini sebagai momentum bagi orang-orang beriman khususnya untuk me-repure mensucikan kembali jiwanya, yang mana setelah satu tahun jiwanya berlumuran dosa dan maksiat, sehingga Allah memberi kesempatan waktu khusus yaitu bulan suci ramadhan untuk dijadikan sebagai sarana untuk mencapai sebuah kefitrahan jiwa (kemenangan dan kesucian jiwa) hingga disebut ‘idul Fitri. Ibarat seseorang yang sebelumnya belum mandi, berlumuran lumpur atau kotoran dan berpakain kusut, kemudian setelah mandi dan berpakain rapi maka bersihlah badannya, harum baunya dan enak dipandang. Atau juga bisa diibaratkan seperti ular yang mengalami pergantian kulitnya hingga kulitnya berubah dengan yang baru dan indah. Itulah ibarat jiwa manusia setelah mengalami proses penyucian jiwanya di bulan ramadhan.
Kedua; Syahru imtihan (bulan ujian) untuk kenaikan peringkat/derajat. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 183, bahwa kewajiban berpuasa di bulan ramadhan hanya untuk orang-orang yang beriman demi mencapai derajat taqwa. Syarat ujiannya yaitu orang-orang yang beriman dengan melengkapi syarat sahnya puasa, materi ujiannya yaitu menahan lapar, haus, dan nafsu serta menahan semua panca indera dari hal-hal yang membatalkan puasa dan perbuatan-perbuatan maksiat. Demikian juga skore amalan-amalan sholeh dan ibadah nawafil yang telah dikerjakan, maka semakin tinggi skore yang diperoleh, semakin tinggi pula derajat taqwanya. Apalagi kalau bisa mencapai lailatul Qodar. Standar kelulusannya yaitu kalau telah mencapai derajat taqwa, dengan mencapai kemenangan dan kefitrahan di hari ‘idul fitri.
Ketiga; syahru hashdi tsawab (bulan panen pahala), bagaimana tidak? Misalkan saja orang yang memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka Allah melipatkan gandakan pahalanya seperti orang yang berpuasa.
Maka bulan ramadhan merupakan sebuah jeda waktu bagi orang muslim dan mukmin untuk mengalami sebuah proses upgrading dan purifikasi kwalitas keimanan dan ketaqwaan bagi pribadi muslim dan mukmin.
Di hari nan fitri ini, selayaknya kita memiliki 3 kecerdasan; Pertama, Kecerdasan emosional. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri dalam merespons berbagai macam keadaan. Pengendalian diri ketika mencintai dan membenci sesuatu supaya tidak berlebih-lebihan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda: “Cintailah sesuatu itu (orang yang kamu cinta) secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika, dan bencilah sesuatu itu (orang yang kamu benci), secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan cinta padanya suatu ketika.” Kecerdasan emosional semacam itu, akan mengikis sifat saling dengki-mendengki antara sesama anak bangsa, antara suku dan etnis, bahkan antarpemeluk agama yang berbeda. Dengan kecerdesan ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tiga hal yang disebut dengan afdhalul fadhail (perbuatan yang paling utama di antara yang utama), yaitu: bersilaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memberi pada orang yang tidak pernah memberi, dan memaafkan orang yang berlaku kurang baik pada kita. (HR Imam Thabrani dari Mu’adz bin Jabal).
Kedua, kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini berkaitan dengan arah dan tujuan hidup yang jelas, yaitu bukan semata-mata ingin mendapatkan jabatan dan materi yang sebanyak-banyaknya, sehingga mempergunakan dan menghalalkan berbagai macam cara. Akan tetapi, juga kebahagiaan yang bersifat ruhaniyah yang dilandasi dengan ajaran agama. Kejujuran, keadilan, jauh dari budaya dan perilaku syirik yang ditanamkan melalui ibadah shaum, akan menghantarkan pada kenikmatan hidup yang hakiki, dan kecerdasan spiritual yang tinggi.
Setiap orang akan merasakan betapa jujur, adil dan amanah adalah sesuatu yang sangat indah dan sangat nikmat. Hidup akan terasa gersang dan hampa apabila tidak dibingkai oleh sifat-sifat tersebut. Rakus, tamak, dan korup pasti akan selalu dijauhkan dalam kamus kehidupan orang yang memiliki kecerdasan spiritual, karena ia sadar, bahwa kerakusan dan ketamakan akan membawa pada kefakiran. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani: “Jauhilah oleh kalian sifat tamak (rakus), karena sesungguhnya sifat ini (tamak/rakus) adalah kemiskinan yang nyata.”
Ketiga, kecerdasan sosial. Kecerdasan dalam pengertian selalu memiliki rasa empati, simpati dan selalu ingin menolong orang yang mendapatkan kesulitan dalam kehidupannya. Kecerdasan sosial ini, akan mengikis habis sifat egois, kikir dan materialis, dan digantinya dengan sifat kedermawanan. Ibadah shaum melatih dan mengajarkan seseorang untuk merasakan betapa beratnya haus dan lapar itu. Padahal haus dan laparnya orang yang berpuasa bersifat sementara dan terbatas, yaitu mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
Dengan demikian, esensi hari kemenangan (yaumul ‘ied) adalah terwujudnya sebuah jiwa yang fitrah, tidak ternodai oleh berbagai noda apapun, dengan kwalitas keimanan dan ketaqwaan, memiliki loyalitas yang tinggi dalam berjuang demi tegaknya agama Allah SWT, yang secara otomatis hari-harinya dihiasi dengan amalan-amalan yang telah disyariatkan baik yang wajib maupun yang sunnah, dan tercermin dalam kepribadian kita masing-masing.
Terakhir kali, marilah kita hiasi bulan Syawwal ini dengan puasa sunnah 6 hari untuk kesempurnaan puasa Ramadhan kita, sebagaimana hadits Rosulullah SAW : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad dari Tsauban).
*KETUA II IKPM PAKISTAN 2007-2008
MAHASISWA S2 KAJIAN TAFSIR IIU ISLAMABAD

Ketupat Cinta di Hari Raya

KETUPAT CINTA DI HARI RAYA
Nur Rohim Yunus*

Hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Suatu kemenangan dari sebuah kebahagiaan karena telah mendapat dua kemenangan, kebahagiaan berbuka karena selesainya melaksanakan ibadah Ramadhan serta kebahagiaan bisa bertemu dengan Allah di hari akhir kelak.
Rasulullah telah menjanjikan bahwa orang-orang yang telah berpuasa Ramadhan dengan baik akan diampuni dosa-dosanya dan dia menjadi bersih dan suci laksana bayi yang baru dilahirkan, inilah yang disebut fitrah. Suatu potensi untuk selalu ingin tahu untuk apa ia dilahirkan di muka bumi ini. Suatu potensi yang tidak berada diantara kebaikan dan kejahatan karena ia jelas cenderung kepada suatu kebaikan. Sehingga para alim ulama berkeyakinan, bahwa seorang yang meninggal sebelum diwajibkan kepadanya suatu ibadah, maka ia akan masuk surga dengan fitrahnya yang belum ternodai oleh kesalahan dan dosa dunia.
Pada hari ini terbersit rasa haru yang muncul di hati kita, ketika mendengar takbir dikumandangkan, tauhid atau puji-pujian dilantunkan. Kita teringat suasana idul fitri di negeri kita tercinta. Saat biasanya kita berkumpul dengan keluarga besar, duduk bersimpuh dengan orang tua, memohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan sebagai anak yang terkadang berbuat yang menyakitkan hati mereka, dan kita pun mengucapkan terima kasih atas pengorbanan yang telah mereka lakukan selama ini.
Saat itu pula, adalah nuansa yang paling tepat untuk saling memaafkan sambil bercucuran air mata penyesalan. Karena hakikat dosa kepada hamba tak akan bisa diampunkan Allah kecuali pemberian maaf hamba yang bersangkutan.
Terkenang suasana Lebaran Idul Fitri di kampung halaman nan damai di negeri seberang, tempat di mana aku telah dilahirkan. Suatu tempat yang telah ajarkanku tuk mampu menyunggingkan senyuman kebahagiaan, sejak malam takbiran menggema, hingga keesokan pagi saat pulang dari jamaah shalat ied di lapangan. Senyum kebahagiaan, karena masih mampu tuk bersimpuh memohon maaf kepada orang tua tercinta. Belum lagi kebahagiaan makan “ketupat cinta” buatan bunda, bersama daging berbumbu rendang pedas dan opor ayam yang luar biasa lezatnya.
Sebuah kemenangan tahunan yang tak pernah terlupakan. Karena tetangga di samping rumah pun tak ketinggalan pula menikmati aroma ketupat cinta buatan bunda. Belum lagi setiap dari mereka punya rasa ingin saling berbagi ketupat cinta yang mereka buat untuk para tetangga. Sehingga kemenangan yang dirasa menjadi semakin sempurna, menyebar ke seluruh pelosok negeri. Tak peduli dari tukang sapu di jalan, para nelayan, kaum elit, pedagang, hingga tukang pukul beduk di masjid raya turut merasakan kemenangan yang tercipta dari solidaritas ketupat cinta buatan para bunda.
Kemenangan itu rupanya tak hanya bagi mereka yang memiliki baju dan pakaian baru pada hari raya, bukan juga bagi mereka yang banyak menghamburkan rizki dan berbondong-bondong pergi ke pasar berfoya-foya membeli barang-barang yang mewah. Namun kemenangan itu pun bagi mereka yang melakukan dan memakai baju baru dari hasil menjajakan ketupat kosong yang dibuat dari daun nifah ke seluruh pelosok rumah yang membutuhkannya. Sungguh, dengan ketupat cinta, Allah berikan rezeki-Nya kepada hamba-hamba yang mau berusaha.
Tapi, kemenangan itu tak pernah berlaku bagi mereka yang menghambat dan menghalangi terwujudnya persatuan dan kesatuan umat. Kemenangan yang terlewatkan bagi mereka yang berebut ketupat hingga melupakan jerih payah pembuatnya yang telah teteskan keringat, yang harapkan raih kasih dari penikmat ketupat cinta saat silaturrahmi telah tiba.
Kemenangan yang terlewatkan atas mereka yang menjadi penghambat dan penghalang bagi terwujudnya ikatan tali silaturrahmi, hingga ketupat yang ada tak mampu tebarkan aroma kepedulian tuk saling memberi. Kemenangan yang tak pernah dirasakan oleh kalangan intelektual arogan, yang dapat membuat orang menjadi absolutis, berpikir hitam putih dan mengklaim bahwa kebenaran hanya ada pada diri dan kelompok mereka semata.
Kemenangan yang tak dirasakan oleh pemilik emosional arogan, yang membuat orang menjadi fanatik dan membabi buta serta berlebih-lebihan terhadap kelompok dan alirannya. Mereka yang berusaha memakan habis ketupat buatan mereka dan tak pernah mau peduli para tetangga yang kelaparan hanya karena mereka tak masuk golongan.
Kemenangan yang tak dirasakan oleh pemilik sosial arogan, karena penyakit yang telah membuat diri merasa ekslusif, menutup dan mengasingkan diri dari orang-orang dan lingkungan selain kelompoknya.
Mereka yang tak pernah merasakan bahwa kebahagiaan hanya dapat tercipta disaat kemenangan menikmati hidangan ketupat cinta diatas satu meja kebersamaan, meja aqidah Islamiyah, agama nan damai dan sempurna.
Milik siapakah kemenangan ini?!?… Terdengar teriakan di pojok kota negeri antah berantah. Sebuah teriakan yang tak pernah kudengar di kampung halamanku di negeri seberang. Kemenangan dari ketupat cinta tak pernah berlaku bagi mereka yang mendustakan agama, karena ketegaan mereka menghardik dan mengusir anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Mereka lupa, ketupat cinta tak kan pernah menjadi ketupat cinta tanpa ada tangan-tangan cinta meraih dan menikmatinya dengan cinta.
Kemenangan dari ketupat cinta rupanya tak berlaku pula bagi pemilik sifat riya’, yang selalu ingin mendapatkan pamrih dari pemberian ketupat kepada orang lain. Mereka telah lupakan, hakikat memberi tak mesti harap kembali. Hanya kepada-Nya kita boleh berharap tuk impikan imbalan ketupat cinta dapat menjadi bangunan istana di surga kelak. Masya Allah.
Ku teringat, di saat tangan bunda membuat ketupat cinta tuk keluarga, keluar tausyiah berharga mengingatkanku betapa bahagianya mereka yang telah mendapatkan kemenangan di hari fitri ini, sebuah kemenangan yang tak dirasakan para orang tua yang tidak paham akan tugasnya sebagai kepala keluarga, dan juga seorang ibu yang telah lupakan tuk didik anak-anaknya menjadi generasi yang shaleh dan shalehah. Karena tingkat keberhasilan mendidik anak bukan hanya sekedar berhasil menyampaikan cita-cita dalam urusan pendidikan, pangkat, jabatan dan pekerjaan saja, tapi keberhasilan menuju jenjang keshalehanlah yang menjadikan mereka turut menikmati kemenangan bersama ketupat cinta buatan bunda di hari raya.
Lagi-lagi kepala ini menggeleng-geleng takjub, membayangkan betapa besar pengorbanan bunda menyuguhkan ketupat cinta di hari raya, dengan bumbu-bumbu kasih sayang penuh keikhlasan. Sehingga getaran lidah dan geraham yang mengunyah ketupat cinta pun turut merasakan betapa indah pesona kasih yang diberikan bunda kepada anak-anaknya.
Di hari kemenangan ini, aku pun sadar, seorang anak yang durhaka kepada orang tua, yang tak pernah berpikir tuk bahagiakan mereka, dan selalu menjadi beban permasalahan keluarga, serta tak pernah mau berpikir tuk doakan keduanya tak akan pernah merasakan kemenangan menikmati untaian kebahagiaan menghirup sejuknya air dari telaga kedamaian, sebagaimana bahagianya sebuah keluarga berteduh dibawah kerindangan, sembari menikmati ketupat cinta yang telah dipesan sebelum tikar tergelar diatas rumput-rumput kebersamaan. Mereka tak merasakan itu.
Sungguh di hari nan fitri ini, aku tak mau tertinggal dari pesona indahnya kemenangan dari ketupat cinta, walau ia hanya sebatas kenangan di masa lampau. Tapi ku yakin, pesona itu tetap akan kurasa, disaat ku telah kembali dari negeri perantauan, hingga ku berjumpa dengan sentuhan halus kasih tangan bunda yang suguhkan ketupat cintanya untukku.
Kerinduanku bukan kepalang, akan buaian kedamaian tuk raih kemenangan dari ketupat cinta buatan bunda. Sehingga membuatku tak lalai tuk menyombongkan ilmu di dunia, yang menganggap dengan ilmu hanya untuk menipu publik kepada suatu kemungkaran, kebohongan dan kerugian. Naudzubillah.
Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kemenangan ini adalah kedamaian abadi tuk kemuliaan tangan bunda, yang telah rela luangkan waktu tuk suguhkan ketupat cinta di hari raya.
Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan cinta bunda kepada kami sebagai cerminan cinta-Mu kepadanya. Karena kebahagiaan kami hanya dapat terukir di saat kami tatap senyum bunda menjumpai ridho-Mu, sebagaimana senyum yang terlihat di saat menatap kami menyantap ketupat cinta yang telah ia buat.
Ya Allah ya Tuhan kami, yakinkanlah kepada kami, bahwa hari kemarin adalah pelajaran bagi kami, bahwa hari ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi, dan hari esok adalah harapan yang kami nanti. Bawalah kami kehadapan-Mu bersama bunda dan ayah yang kami cinta, sehingga kami dapat kembali bersama menikmati indahnya ketupat cinta di bawah rindangnya pohon di surgamu di hari nan abadi kelak.
*MAHASISWA S2 SYARI’AH & LAW IIU ISLAMABAD
AKTIVIS FLP PAKISTAN

Islamabad, 12 Oktober 2007
Kutulis disaat kukenang tulus tangan bunda Nuriyati menyuguhkan ketupat cinta untukku.
Spesial Neng Iffah di negeri Parung.

Idul Fitri dan Semangat Kebersamaan*
H. Muhajirin Abdul Qodir M.A.**

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin-Hadirat yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Pada hari yang mulia ini, kita sama-sama tengah menyelenggarakan suatu perayaan besar ummat Islam di seluruh dunia, yaitu perayaan idul fitri atau yang biasa kita kenal dengan hari raya lebaran. Satu bulan penuh kita digembleng oleh Allah swt dalam suatu training ruhani yang disebut puasa, maka kita berdoa kepada Allah swt, semoga puasa yang telah kita jalankan beberapa hari yang lalu, dapat mengantarkan kita sebagai pemenang dan hamba-hamba pilihan dengan predikat al-muttaqun atau orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah swt.

يأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة: 183).

“Wahai orang-orang yang berimanan telah diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang terdahulu sebelum kamu, agar kamu sekalian bertaqwa”.

Yang disebut dengan orang-orang bertaqwa setelah ia menjalankan ibadah puasa adalah, orang-orang yang senantiasa dapat mengontrol dirinya untuk mampu berada pada jalan Allah swt, baik atas setiap apa yang Allah anjurkan atau Ia larang. Ialah orang yang dapat menundukkan hawa nafsunya setelah bulan puasa, untuk selalu melakukan apa yang Allah perintahkan, seperti menjalankan shalat lima waktu, bersedekah kepada fakir miskin, menyambung tali silaturrahmi, memaafkan kesalahan orang lain, bekerja dengan penuh amanat dan lain-lain. Di samping itu, ia pun dapat mengontrol jiwanya untuk tidak sedikitpun terdetik dalam hatinya melakukan perbuatan-perbuatan yang akan mengundang murka dan laknat Allah swt, seperti: menebarkan kebencian kepada sesama muslim, berlaku curang dalam setiap kebijakan dan perlakuan, berbohong, berkhianat, tidak amanah dalam bekerja, menahan harta dan hak orang lain secara tidak adil dan lain-lain. Jika seseorang telah mampu mengendalikan diri untuk selalu memposisikan jiwanya untuk senantiasa taat akan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah swt, itulah sesungguhnya orang-orang yang telah keluar dari bulan ramadhan dengan predikat al-muttaqun atau (orang yang bertaqwa) sebagaimana yang dipesankan oleh ayat al-Quran tadi.

Tentunya dalam memahami puasa yang baru saja kita lalui, ada sesuatu yang harus kita kedepankan, yaitu niat kita berpuasa didasarkan atas pendekatan keimanan. Dengan dasar seperti ini, kita tentu melakukan puasa, lebih didasarkan pada mengikuti perintah Allah SWT, bukan karena alasan-alasan lain. Adapun kalau ada yang mengatakan puasa itu dapat menyehatkan badan dan jiwa, itu adalah hikmah atau manfaat dari perilaku puasa yang dilakukannya. Sebab belakangan, secara medis, puasa itu diketahui dapat memberikan kesehatan jiwa, di samping juga jasmaninya. Paling tidak, hal ini diungkap dalam buku karya Dr. Alan Cott, yang berjudul “Puasa Sebagai Cara Hidup”

Dalam buku tersebut, Dr. Alan Cott menyebutkan bahwa gangguan jiwa yang parah dapat disembuhkan dengan berpuasa. Penelitian yang dilakukan Alan Cott terhadap pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit Grace Square New York juga menemukan hasil yang sejalan, pasien sakit jiwa ternyata bisa sembuh dengan terapi puasa.

Atas dasar inilah maka jika kita kembalikan kepada Al-Qur’an, tepatnya ayat yang saya sebutkan di atas, sesungguhnya kalimat “كتب عليكم الصيام ” yang artinya “telah diwajibkan atas kamu berpuasa”, di sana Allah swt tidak menyebutkan subyek siapa yang mewajibkan puasa itu, sehingga kalimat tersebut dibiarkan menjadi kalimat pasif (diwajibkan), seolah-olah Allah Swt, hendak mengatakan, bahwa sekalipun tidak Allah wajibkan puasa kepada manusia, niscaya manusia sendiri lah yang akan mewajibkan dirinya untuk berpuasa, oleh sebab di dalam puasa tersebut terdapat manfaat dan hasiat yang amat luar biasa bagi kesehatan jiwa dan raga kita.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Setelah selesai berpuasa, sekarang tibalah saatnya kita memasuki hari raya idul fitri. Suatu hari raya yang dimana kita dianjurkan oleh agama kita untuk meluapkan rasa kebahagiaan dan kegembiraan atas kemenangan jiwa kita memerangi hawa nafsu selama satu bulan penuh. Idul fitri yang berarti “kembali kepada fitrah”, yaitu fitrah awal kemanusiaan kita, yang tidak memiliki dosa dan kesalahan, disebabkan pada hari ini pula, perasaan hati kita senantiasa diliputi untuk selalu meminta maaf dan sekaligus memaafkan atas segala kesalahan yang diperbuat oleh diri kita juga oleh orang lain. Sehingga hari raya idul fitri ini, benar-benar menjadi wasilah bagi menyebarnya rasa cinta dan kasih sayang bagi sesama muslim di seluruh dunia. Tidak ada lagi kata marah, tidak ada lagi kata benci, tidak ada lagi kata emosi, namun pada hari ini, yang ada adalah kata rindu, yang ada ialah kata cinta, dan yang ada ialah kata maaf. Demikian lah dahsyatnya pengaruh hari raya idul fitri ini dalam menciptakan keharmonisan hubungan antar sesama ummat Islam ini.

Di samping dengan adanya tradisi saling memaafkan ini, pada hari idul fitri ini pula kita memiliki budaya berbagi kebahagiaan dengan saling memberi sebagian anugerah harta yang kita miliki. Yaitu budaya mengundang atau menghadiri undangan disisipi dengan menyediakan hidangan ala kadarnya sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bahkan pada hari ini juga, merupakan waktu yang paling dianjurkan bagi mereka yang diberikan kelebihan harta untuk mengeluarkan zakat fitrahnya kepada para fakir miskin. Maka idul fitri sesungguhnya adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk meluapkan kebahagiaan kita, melalui cara membagi kebahagiaan tersebut kepada mereka yang kurang beruntung. Demikianlah makna idul fitri yang sesungguhnya, idul fitri tidak boleh hanya dirasakan hanya bagi mereka yang memiliki anugerah keberuntungan secara materil saja, akan tetapi idul fitri juga harus dapat dirasakan oleh seluruh ummat Islam yang lainnya untuk sama-sama merasakan keberkahan hari kemenangan ini. Sebagaimana halnya pesan sosial puasa, yang tidak lain adalah agar kita pun yang berpuasa benar-benar memahami dan merasakan kepayahan orang yang fakir dan miskin yang terbiasa merasakan sakitnya lapar dan dahaga. Sehingga apapun yang kita lakukan, sekalipun ia berdimensi ibadah, akan tetapi ia tidak hanya dirasakan pada aspek individual saja, melainkan berdampak juga pada aspek sosialnya.

Maka dari itu, banyak sekali ajaran Islam yang menitikberatkan kepada kita untuk tidak melulu terpokus kepada penciptaan kesalehan pribadi atau individual, melainkan agar kesalehan individual ini juga memiliki dampak terhadap penciptaan kesalehan sosial antar sesama kita. Dari sini, sesunggunya agama Islam, bukanlah agama yang menginginkan agar ummatnya menjadi ummat yang egois, mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan orang lain. Namun agama Islam justeru senantiasa mengkaitkan kesuksesan individu manusia sebagai hamba Allah swt, dengan kesuksesannya sebagai mahluk sosial. Ibadah ritual sebanyak apapun tidak akan berarti apa-apa jika orang yang melakukannya tidak mampu menjaga dirinya dengan baik tindakan-tindakan sosialnya.

Hal ini berarti, apa gunanya kita sering sholat, jika ternyata masih banyak Saudara kita yang sering terluka dengan ucapan kita. Apa gunanya kita selalu berpuasa, jika ternyata masih banyak Saudara kita yang tidak nyaman dengan perbuatan dan sikap kita yang angkuh. Apa gunanya kita sering berhaji, jika masih banyak Saudara bahkan tetangga kita yang menahan sakit karena lapar dan kedinginan akibat hidup beratapkan kolong jembatan.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Selain dari pada hal yang di atas, salah satu yang telah menjadi tradisi sekaligus diperbolehkan oleh ajaran agama kita, yaitu, pada saat idul fitri ini kita dapat mengungkapkan kebahagiaan dengan cara-cara apapun selama ia sesuai dengan tuntunan syariat agama kita. Seperti merayakan idul fitri dengan berkumpul di suatu tempat untuk bersilaturrahmi, diiringi dengan lantunan lagu-lagu yang Islami, atau anasyid-anasyid yang mengagungkan asma Allah dan bulan ramadlan atau yang lainnya. Dan nampaknya hal serupa pun pernah dilakukan oleh para sahabat di masa nabi Muhammad saw masih hidup. Kita sebut saja satu hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa suatu ketika Abu Bakar RA tengah berlebaran ke rumah rasulullah saw, namun tiba-tiba sesampainya ia ke rumah rasulullah, ia menjumpai putrinya yang tidak lain ialah Aisyah (istri Nabi) sedang bernyanyi menggunakan alat rebana (dufuf) bersama dua orang budak wanita. Melihat hal tersebut, secara kasar Abu Bakar, memarahi mereka seraya berkata, أمزمار الشيطان في بيت رسول الله “Bagaimana bisa koq seruling syeitan ada di rumah rasulullah?”. Sang baginda rasulullah saw yang tengah tidur-tiduran di kamar, ketika mendengar suara keras dari Abu Bakar, langsung terbangun, lalu beliau berkata, دعهن يأبا بكر، ليعلموا أن في ديننا فسحة، وإني بعثت بالحنفية السمحة “Wahai Abu Bakar!, biarkanlah mereka bernyanyi dan bergembira, agar semua orang tahu bahwa dalam agama kita juga terdapat kemudahan, dan sesungguhnya aku diutus dengan ajaran yang penuh kemudahan” . Atau saya mengartikannya, Islam adalah agama yang rileks.

Bahkan dalam sebagian riwayat dinyatakan pula, bahwa pada hari idul fitri ini pernah para pemeluk Islam yang berasal dari Habasyah atau Ethiopia sekarang ini, ketika mereka berada di Madinah bersama rosulullah, melakukan pagelaran tarian suku di dalam masjid nabawi, dan banyak dari para sahabat juga rosulullah saw hadir memberikan semangat bagi mereka yang tengah meluapkan kegembiraan pada hari kemenangan ini.

Dari peristiwa di atas, tentunya kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Idul fitri adalah hari dimana kita diperbolehkan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama kita, berbagi kebahagiaan ini tentunya juga harus melibatkan orang-orang yang selama ini dianggap kurang beruntung secara ekonomi sehingga mereka juga dapat merasakan kebahagiaan tersebut. Kemudian mediasi dalam meluapkan kebahagiaan ini juga bisa dilengkapi dengan menampilkan kreasi seni musik yang Islami dan tentunya sesuai dengan suasana religiusitas Idul fitri.

Demikian indah dan agungnya agama Islam ini, Agama yang penuh kemudahan dan kesejukan dalam setiap ajarannya. Yaitu agama yang benar-benar sesuai dengan fitrah kemanusiaan, agama yang tidak pernah memerangi hawa nafsu kita, akan tetapi selalu membimbing nafsu kita untuk tampak lebih terarah dan beroperasi sesuai dengan porsi dan fungsinya. Agama yang tidak menginginkan manusia seperti halnya malaikat-malaikat suci yang tugasnya hanya monoton taat pada satu perintah Allah swt. Akan tetapi agama Islam sungguh agama yang realistis dan mengakui segala hajat dan hak manusia. Sesuai dengan sabda nabi Muhammad Saw. “
فإن لجسدك عليك حقا وإن لعقلك عليك حقا، واعط كل ذي حق حقه

Yang artinya: “sesungguhnya bagi tubuhnmu terdapat hak atas dirimu, sebagaimana bagi akalmu terdapat hak atas dirimu, maka berilah hak itu sesuai dengan porsinya masing-masing”.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt.

Terakhir sebagai penutup, memang tidak bisa dipungkiri sejak tahun 1990-an hingga kini, perayaan Idul Fitri secara bersamaan sulit terlaksana di Indonesia. Karena itu pula, yang perlu dikembangkan ke depan adalah perbedaan tersebut perlu diwujudkan dalam hal-hal yang positif; dan tidak dalam hal yang negatif. Tentunya, perwujudan positif dalam menanggapi perbedaan itu bisa berupa sikap saling menghargai perbedaan yang ada dan membangun toleransi antarsesama umat. Sehingga dengan demikian, semangat fitri yaitu kembali ke yang suci (fitrah) akan melekat pada diri kita semua. Selain itu, yang paling penting dalam menyikapi perbedaan ini adalah membangun persatuan bangsa Indonesia di atas keragaman. Karena hal ini pula, yang menjadi semangat dan melanggengkan kebangsaan kita selama ini. Meskipun masih terjadi perbedaan soal Hari Raya Idul Fitri, kita tetap perlu mengembangkan Islam yang menghargai perbedaan dan toleran, serta menjunjung tinggi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kita harus hidup bersama dalam keberbedaan sehingga mampu bersikap toleran dan membiarkan berbeda dalam kedamaian.
Islamabad, 13 Oktober 2007
*KHUTBAH IDUL FITRI KBRI ISLAMABAD
**ALUMNI S2 FAKULTAS USHULUDDIN-TAFSIR

TOLERANSI DAN PERSATUAN UMAT

TOLERANSI DAN KESATUAN UMMAT

Hamdan Maghribi*

Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an

Bersikaplah tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah lembutlah terhadap sesama muslim

Setelah melihat makna dari ayat al qur’an diatas, terbersit sebuah pertanyaan, mengapa kadang-kadang toleransi dan persatuan umat seagama terasa lebih sulit daripada antar umat beragama? Fenomena sektarianisme di Pakistan, pertikaian antar ormas di Indonesia, perdebatan yang tak jarang berujung pada takfir antar madzhab pemikiran merupakan bukti nyata akan fenomena sulitnya menanamkan sikap toleran antar umat Islam.

Mungkin yang mendasari hal ini adalah, antar umat beragama memiliki batasan-batasan yang jelas dikarenakan adanya perbedaan prinsipil antara satu agama dengan yang lainnya, sehingga memudahkan bagi masing-masing untuk menumbuh kembangkan sikap toleran dan berusaha untuk tidak melibatkan diri dalam urusan agama yang lain karena perbedaan yang jelas dan prinsipil tadi.

Sedangkan dengan umat seagama, dimana masing-masing memiliki keterikatan dalam satu ruang agama -yang seharusnya bisa dijadikan landasan tercapainya persatuan yang kokoh dan kuat- namun kadang karena pemahaman yang kurang atau berlebihan terhadap agama, acapkali menimbulkan sikap intoleran dalam hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu prinsipil untuk disamakan secara paksa. Hal ini terjadi akibat pemahaman tentang persatuan ummat yang harus dicapai dengan penyatuan segala hal tanpa melihat mana yang ushul dan mana yang furu’. Ironisnya lagi ikatan kesatuan agama ini kadang-kadang dijadikan alasan untuk mencampuri urusan orang lain atas dalil ‘ukhuwwah Islamiyyah’, meskipun dalam hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil sehingga melibatkan diri dalamnya. Sehingga tanpa disadari sikap tersebut (pemaksaan ‘keseragaman’ terhadap hal-hal furu’iyyah dengan dalil persatuan ummat) jutru akan mengorbankan hal-hal yang lebih prinsipil dan ushuly yang dapat mengakibatkan perpecahan ummat.

Akhir-akhir ini tak jarang kita disuguhi berbagai slogan toleransi beragama yang memang diperlukan demi perdamaian umat manusia. Bahkan ada yang terlalu jauh, banyak dari mereka yang kemudian meneriakkan pluralisme agama. Menurut hemat saya, tak ada salahnya jika sekali-kali mari kita merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing ‘sampai sejauh manakah sikap toleran kita terhadap sesama muslim?’ jangan hanya mengumandangkan toleransi antar agama namun dirinya sendiri intoleran terhadap sesamanya yang muslim. Timbulnya berbagai macam istilah Barat yang kemudian diamini sebagaian tokoh muslim seperti Islam Fundamentalis, sekuler, ekstrimis, modernis, liberal, literal, emansipatoris, humanis dan Islams (baca: Islam-islam) yang lainnya  merupakan suatu indikator tentang kurangnya kesadaran umat Islam terhadap sikap toleran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam. Sungguh ironis apabila diluar kita meneriakkan bermacam slogan toleransi antar agama, namun didalam kita enggan untuk bersikap toleran.

Mari sekali lagi kita renungkan sikap baginda Rasulullah SAW yang dilukiskan dalam ayat alqur’an pada pembuka tulisan ini ‘asyiddau ‘alal kuffari ruhamaau bainahum’. Demikianlah sikap lemah lembut beliau kepada sesama muslim. Namun, berbagai bukti nyata didunia muslim sekarang menampakkan sebaliknya.

Tantangan terbesar kita sekarang adalah dimanakah letak kekuatan umat Islam yang dahulu bisa menyatukan berbagai etnis dan budaya serta beragam corak pemahaman terhadap ajaran Islam? Bagaimana Rasulullah dan para shahabat bisa tetap bersatu meskipun kadang berbeda? Menurut saya, salah satu faktor utamanya adalah toleransi. Persatuan umat tidak akan bisa tercipta dengan memaksakan ‘keseragaman’ dalam segala bidang ajaran Islam. Justru dengan berbagai corak dan warnanya tersebut Islam bisa menjadi agama yang universal rahmatan lil’alamin dan dengan demikian persatuan umat akan mudah terwujud.(albi)

*DEWAN REDAKSI KAIFA

MAHASISWA S2 KAJIAN AKIDAH FILSAFAT IIU ISLAMABAD

Allah knows best.

H I/141 061007 12:35PM

 

 

TOLERANSI DAN PERSATUAN UMAT

TOLERANSI DAN KESATUAN UMMATHamdan Maghribi*Allah SWT berfirman dalam Al-qur’anBersikaplah tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah lembutlah terhadap sesama muslimSetelah melihat makna dari ayat al qur’an diatas, terbersit sebuah pertanyaan, mengapa kadang-kadang toleransi dan persatuan umat seagama terasa lebih sulit daripada antar umat beragama? Fenomena sektarianisme di Pakistan, pertikaian antar ormas di Indonesia, perdebatan yang tak jarang berujung pada takfir antar madzhab pemikiran merupakan bukti nyata akan fenomena sulitnya menanamkan sikap toleran antar umat Islam.Mungkin yang mendasari hal ini adalah, antar umat beragama memiliki batasan-batasan yang jelas dikarenakan adanya perbedaan prinsipil antara satu agama dengan yang lainnya, sehingga memudahkan bagi masing-masing untuk menumbuh kembangkan sikap toleran dan berusaha untuk tidak melibatkan diri dalam urusan agama yang lain karena perbedaan yang jelas dan prinsipil tadi.Sedangkan dengan umat seagama, dimana masing-masing memiliki keterikatan dalam satu ruang agama -yang seharusnya bisa dijadikan landasan tercapainya persatuan yang kokoh dan kuat- namun kadang karena pemahaman yang kurang atau berlebihan terhadap agama, acapkali menimbulkan sikap intoleran dalam hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu prinsipil untuk disamakan secara paksa. Hal ini terjadi akibat pemahaman tentang persatuan ummat yang harus dicapai dengan penyatuan segala hal tanpa melihat mana yang ushul dan mana yang furu’. Ironisnya lagi ikatan kesatuan agama ini kadang-kadang dijadikan alasan untuk mencampuri urusan orang lain atas dalil ‘ukhuwwah Islamiyyah’, meskipun dalam hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil sehingga melibatkan diri dalamnya. Sehingga tanpa disadari sikap tersebut (pemaksaan ‘keseragaman’ terhadap hal-hal furu’iyyah dengan dalil persatuan ummat) jutru akan mengorbankan hal-hal yang lebih prinsipil dan ushuly yang dapat mengakibatkan perpecahan ummat.Akhir-akhir ini tak jarang kita disuguhi berbagai slogan toleransi beragama yang memang diperlukan demi perdamaian umat manusia. Bahkan ada yang terlalu jauh, banyak dari mereka yang kemudian meneriakkan pluralisme agama. Menurut hemat saya, tak ada salahnya jika sekali-kali mari kita merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing ‘sampai sejauh manakah sikap toleran kita terhadap sesama muslim?’ jangan hanya mengumandangkan toleransi antar agama namun dirinya sendiri intoleran terhadap sesamanya yang muslim. Timbulnya berbagai macam istilah Barat yang kemudian diamini sebagaian tokoh muslim seperti Islam Fundamentalis, sekuler, ekstrimis, modernis, liberal, literal, emansipatoris, humanis dan Islams (baca: Islam-islam) yang lainnya  merupakan suatu indikator tentang kurangnya kesadaran umat Islam terhadap sikap toleran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam. Sungguh ironis apabila diluar kita meneriakkan bermacam slogan toleransi antar agama, namun didalam kita enggan untuk bersikap toleran.Mari sekali lagi kita renungkan sikap baginda Rasulullah SAW yang dilukiskan dalam ayat alqur’an pada pembuka tulisan ini ‘asyiddau ‘alal kuffari ruhamaau bainahum’. Demikianlah sikap lemah lembut beliau kepada sesama muslim. Namun, berbagai bukti nyata didunia muslim sekarang menampakkan sebaliknya.Tantangan terbesar kita sekarang adalah dimanakah letak kekuatan umat Islam yang dahulu bisa menyatukan berbagai etnis dan budaya serta beragam corak pemahaman terhadap ajaran Islam? Bagaimana Rasulullah dan para shahabat bisa tetap bersatu meskipun kadang berbeda? Menurut saya, salah satu faktor utamanya adalah toleransi. Persatuan umat tidak akan bisa tercipta dengan memaksakan ‘keseragaman’ dalam segala bidang ajaran Islam. Justru dengan berbagai corak dan warnanya tersebut Islam bisa menjadi agama yang universal rahmatan lil’alamin dan dengan demikian persatuan umat akan mudah terwujud.(albi) *DEWAN REDAKSI KAIFAMAHASISWA S2 KAJIAN AKIDAH FILSAFAT IIU ISLAMABADAllah knows best.H I/141 061007 12:35PM   

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!